Kekerasan Seksual Mengancam Masa Depan Anak Bangsa

lagidong Maraknya kasus kekerasan pada anak, baik kekerasan fisik maupun psikis dan bahkan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia terutama 10 tahun belakangan ini seakan membuat kita mengrenyitkan dahi, terbelalak atau bahkan hanya bisa mengelus dada.
Tidak hanya 10 tahun belakangan ini saja kekerasan pada anak terjadi, hanya saja yang menjadi pertanyaan ; apa karena peran media yang terus menerus memblow up kasus-kasus yang terjadi di Indonesia sehingga kesannya sudah urgent atau memang kasus kekerasan pada anak-anak saat ini memang sudah begitu sangat memprihatinkan .
Siapakah yang bertanggungjawab pada masalah kekerasan seksual anak-anak ?
Tentu saja orang tua adalah orang pertama yang harus bertanggungjawab pada keamanan dan keselamatan anak-anaknya. Setelah itu keluarga dalam arti orangtua dan anak-anak yang lebih besar, kakek nenek dan kerabat. Kemudian tetangga dan warga masyarakt pada umumnya.
Tapi bagaimana pengawasaan pada anak-anak ini bisa lepas dan tidak terkontrol lagi tentu saja faktor utamanya adalah faktor ekonomi.
Karena orang tua yang sibuk mencari nafkah , otomatis anak-anak harus lepas dari pengawasan orang tua. Terutama jika kedua orang tua bekerja maka pengasuhan anak akan di serahkan pada asisten rumahtangga, saudara atau kakek neneknya. Selama ini kasus yang terbongkar kebanyakan anak-anak dari kalangan bawah, yang tinggal di kampung-kampung kumuh. Orang tua sudah berangkat bekerja dari hari masih gelap, lalu saat mentari tenggelam orangtua baru pulang.
Anak-anak yang hidup sendiri dalam kesehariannya tentu saja sangat rawan menjadi korban kejahatan secara seksual. Para predator fedofil begitu mudah melakukan aksinya karena tak ada pengawasan dari orang yang seharusnya menjadi pelindung mereka.
Banyak para ibu kini harus ikut bekerja membantu suami mencari nafkah, belum lagi para ibu yang memang berstatus single parent. Jika mereka disuruh berhenti bekerja tentu saja mereka tidak mau.
Di sinilah peran pemerintah sangat dibutuhkan, bagaimana caranya pemerintah harus membuat sebuah lembaga atau yayasan yang bisa menampung anak-anak dengan orang tua yang bekerja. Mungkin semacam tempat penitipan anak, tapi dengan biaya yang terjangkau. Di lengkapi dengan fasilitas pendukung untuk menunjang anak-anak belajar di luar jam sekolah mereka.
Dengan begitu tentu saja bisa meminimalisir kejahatan pada anak baik secara seksual maupun kekerasan fisik.

This entry was posted in Sosial on by .

About Hariyati R. Suryaman

menulis adalah jiwaku,...memasak adalah nafas hidupku...keduanya tak bisa dipisahkan dariku. Passionku pada kedua hal tersebut yang membuat hidupku tak pernah merasa kering. Selalu ingin berkarya walau belum ada yang bisa di banggakan sebagai sebuah kesuksesan...... Selalu belajar, walau usia sudah makin merambat senja......

Leave a Reply