Precognitive Dream (Cerbung)

dream
Resti terpaku melihat sekelebat bayangan Priyo lewat di hadapannya. Ia begitu yakin itu Priyo…Semampai tubuhnya, potongan rambutnya, cara berjalan, berpakaian….
Ufftttt…….tiba-tiba lehernya tercekat ketika sadar bahwa Priyo sudah tiada sembilan tahun lalu..
Dengan sedikit berlari Resti berusaha mengejar “bayangan” Priyo. Sudut matanya terus mencari ke segala penjuru taman kota tempatnya laripagi minggu itu. Nihil…
Resti kembali melihat kelebatan Priyo memakai jaket biru kesukaannya sedang berlari menuju arah luar Taman, dengan sedikit nafas menderu ia mencoba memanggil Priyo…
“Mas Pri…mas…!!”
Nafasnya tersengal-sengal karena seakan ia terus berlari mengejar Priyo, tapi tak juga kunjung mendekat..
Semakin kencang Resti berlari semakin jauh jarak Priyo tak tergapai…
Resty menyerah, terkulai di sisi undakan berumput.
Sayup ia mendengar suara-suara tak beraturan berusaha menyadarkannya, namun seakan tubuhnya tak bertulang.
“Mbak…mbak…bangun mbak…” Sayup timbul tenggelam suara orang-orang memanggilnya.
Resty terbangun ketika tepukan kecil menyentuh pipinya beberapa kali, dibukanya matanya dan melihat sosok Dewi teman kostnya sedang tersenyum ke arahnya…
“Mbak dari tadi seperti mengigau, manggil nama seseorang…Mas Pri, gitu kalau saya nggak salah dengar” Dewi duduk di sisi ranjang. Dan menyorongkan segelas air putih.
Diteguknya beberapa kali terasa dingin menyentuh tenggorokan hingga perutnya…
“Jadi tadi aku mimpi ya ?, hanya mimpi ? Syukurlah kalau begitu”. Resty merasa lega.
“Bunga tidur, sih Mbak. Tapi karena tadi mbak manggil-manggil nama seseorang sambil nafasnya tersengal gitu aku jadi kuatir. Maaf ya mbak sudah mengganggu tidurnya…” Dewi beranjak naik ke ranjangnya dan menarik selimutnya hingga dada.
“Sudah , mbak resty..aku mau lanjutin tidur”.
Resty tersenyum sambil mengangguk.
Ia kembali pada mimpinya tadi.
Priyo…Mas Pri ,biasa Resty memanggilnya . Tiba-tiba sebuah desiran rindu menyeruak di aliran darahnya..
“Aku merindukan sosokmu..Mas”.
Sembilan tahun waktu yang cukup panjang untuk melupakannya. Resty ingat pagi itu terakhir kali ia melihat Priyo kekasihnya berangkat ke Papua untuk perjalanan dinas selama Dua minggu, Beberapa jam setelah tiba di PApua Priyo masih sempat menghubunginya melalui telphone seluler. Ia mengabarkan sudah tiba dengan selamat, dan akan naik mobil jemputan menuju tempat kerjanya dan telah disediakan mess di sana. Itulah terakhir kali ia mendengar suaranya. Hingga kemudian, hp nya tak bisa dihubungi, keluarganyapun tak tahu keberadaannya, aplagi pihak kantor tempatnya bekerja.
Priyo dianggap hilang, bagai ditelan bumi. Dan tadi Resty melihat kembali sosok Priyo….Tapi hanya mimpi.
“Ah, lupakan saja, hanya bunga tidur “.
Resty kembali masuk dalam balutan selimut tebalnya dan berusaha memejamkan mata …
(Bersambung…)