Category Archives: Pembagian

IFERROR

Pernahkah kamu menemukan hasil perhitungan rumus di excel seperti ini #N/A, #VALUE!, #REF!, #DIV/0!, #NUM!, #NAME?, atau #NULL!. Sungguh menyebalkan bukan? Apa yang akan kamu lakukan? Ada yang membiarkan dan masa bodoh dengan spread sheet yang kelihatan kotor, ada yang menghapus rumus nya supaya kelihatan bersih, dan ada juga yang kreatif mengakali dengan fungsi IF tambahan.

Lihat contoh berikut ini:

Kolom D berisi rumus yang membagi Total Nilai barang di kolom B dengan berat barang dalam Kg di kolom C, hasilnya adalah Harga/Kg. Tidak ada yang salah dengan rumus itu kecuali di baris 6 dan 9, kita tahu bahwa membagi sebuah bilangan dengan nol menghasilkan nilai tak terhingga, excel mengingatkan kita dengan menampilkan #DIV/0!

Orang yang cuek, sebut saja Mr. C akan membiarkan hasilnya seperti itu, dia baru bingung cari solusi kalau bos protes karena melihat laporan yang dibacanya kelihatan tidak elok dipandang mata. Temannya yang mengerti kemauan bos, yaitu Mr. R akan menghapus rumus di D6 dan D9 dan membiarkannya kosong atau mengisinya dengan angka nol. Sayang sekali Mr. R yang rajin ini akhirnya sangat repot dan waktunya habis hanya untuk menghapus rumus dan mengganti dengan angka nol karena ternyata masih banyak baris lain di bawahnya yang menghasilkan #DIV/0!

Kebetulan ada teman lain yang pintar yaitu Mr. P, dia mengamati bahwa Mr. R selalu menghapus rumus di baris yang salah, yaitu baris yang di kolom C berisi angka nol, dan mengganti rumus tersebut dengan angka nol. Solusi yang disarankannya adalah mendeteksi angka di kolom C sebelum melakukan pembagian. Ini dia hasilnya:

Mr. P melakukan sama persis apa yang dilakukan Mr. R, yaitu memeriksa apakah angka di di kolom C nol atau bukan. Bila angka di kolom C adalah nol maka dia langsung mengisi hasilnya dengan angka nol. Tetapi bila angka di kolom C bukan nol maka dia akan menghitung dengan rumus angka di kolom B dibagi angka di kolom C. Hasilnya persis sama. Lalu apa bedanya? Bedanya Mr. R mendeteksi angka nol dan mengganti rumus secara manual, sedangkan Mr. P melakukan keduanya dengan dengan fungsi IF (pelajari lagi fungsi IF di sini).

Perbedaan yang lain adalah lamanya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Mr. R akan perlu waktu lama sekali jika jumlah baris yang dikerjakan mencapai angka ratusan atau bahkan ribuan ( yang biasa mengerjakan inventory pasti paham maksud saya). Sedangkan Mr. B hanya perlu waktu sangat sedikit tidak peduli jumlah barisnya ribuan, dia cukup membuat rumus di baris pertama lalu copy dan paste ke baris-baris berikutnya.

Lalu apa hubungannya pembahasan ini dengan fungsi IFERROR ?

IFERROR menampilkan nilai yang anda tentukan jika sebuah rumus menghasilkan kesalahan; selebihnya akan menampilkan hasil rumus tersebut bila benar. Fungsi ini digunakan untuk menangkap dan menangani kesalahan rumus.

Penulisannya: IFERROR(rumus, nilai_jika_salah)

Coba lihat bagaimana Mr. B yang bijaksana menyelesaikan persoalan yang sama, ini dia hasilnya:

Hasilnya sama. Perhatikan juga bahwa rumus nya tetap sama yaitu angka di kolom B dibagi dengan angka di kolom C.

Perbedaannya:

Mr. P mendeteksi nilai di kolom C, bila berisi angka nol maka dia tidak melakukan perhitungan tetapi langsung menaruh angka nol di kolom D. Bila kolom C berisi bukan angka nol maka dilakukan perhitungan dan hasilnya ditaruh di kolom D.

Mr. B langsung melakukan perhitungan. Bila hasil perhitungannya benar maka ditaruh di kolom D, bila hasil perhitungannya salah maka di kolom D diisi dengan angka nol.

Kesimpulan: cara Mr. P bisa dilakukan hanya bila kita tahu penyebab kesalahan hasil perhitungan, cara Mr. B tetap bisa dilakukan tanpa perlu tahu apa penyebab kesalahan.

Selamat mencoba dan membuat banyak kesalahan.

Makin sering bikin salah makin pintar, dijamin!

Memecahkan masalah Adi

Masih ingat masalah Adi? Ya, dia sedang pusing memikirkan bagaimana cara menunjukan pada istrinya berbagai kemungkinan besarnya bunga deposito yang bisa diperoleh dari uang bonusnya sebesar 100 juta rupiah. Besarnya bunga deposito itu ditentukan oleh berbagai tingkat suku bunga dari bank yang berbeda dan beberapa pilihan jangka waktu lamanya deposito tersebut disimpan.

Adi mulai membuka dan menyalakan komputernya, kemudian mengaktifkan program excelnya. Dia menghitung besarnya bunga deposito dari uang bonusnya sebesar 100 juta jika mendepositokan uangnya di BCA selama satu bulan dengan tingkat suku bunga 3,6% per tahun. Rumus yang diketikan dalam salah satu sel excel adalah sebagai berikut: =100000000×3.6%/12*1, dan hasilnya sebagai berikut:

Bunga Deposito 1

Adi tahu apa arti rumus yang diketikan, tapi istrinya tentu tidak bisa membaca pikirannya sehingga dia perlu menambahkan keterangan di sebelahnya sebagai berikut:

Bunga Deposito 1a

Sekarang Adi mengulangi langkah yang sama untuk beberapa tingkat suku bunga yang berbeda dari beberapa bank. Ini dia hasilnya, coba anda juga lakukan hal yang sama sehingga mendapatkan hasil yang sama seperti dibawah ini:

Bunga Deposito 1b

Apakah hasil yang anda peroleh sama dengan hitungan Adi di atas? Jangan kuatir kalau hasilnya berbeda karena hitungan Adi memang ada yang salah. Anda bisa tebak di baris mana hitungan Adi yang salah? Apa kesalahan Adi? Tahukah anda cara menghindari kesalahan serupa?

Ya, kesalahan Adi terletak di baris 9 kolom I, tepatnya di sel I9. Dia mengetik rumus berikut ini =100000000×3.7%/12*1 sementara tingkat suku bunga di  baris itu seharusnya 3.8%. Jadi keterangan yang diketik Adi tidak sejalan dengan rumus yang diketiknya. Lalu bagaimana cara menghindari kesalahan semacam itu?

Untuk menghindari kesalah semacam ini kita harus tahu apa penyebab kesalahannya, dan dari uraian di atas jelas bahwa kesalahan Adi adalah tidak sinkronnya keterangan dengan rumus. Adi harus mencari cara bagaimana supaya keterangan juga bisa berperan sebagai bagian dari rumus.

Adi menyusun ulang layout hitungan bunga depositonya dan inilah hasilnya:

Bunga Deposito 1c

Hmm.. hitungan Adi jadi kelihatan lebih enak dipandang, rapi, dan bebas dari kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Masih ingat kan kesalahan Adi? Benar, dia telah berhasil menemukan cara menuliskan keterangan yang juga sekaligus bisa digunakan dalam rumus perhitungan. Adi menuliskan keterangan secara teratur dalam kolom-kolom yang berbeda. Kererangan mengenai nama bank disusun di kolom B, nilai deposito di kolom D, tingkat suku bunga di kolom F, dan jangka waktu deposito di kolom H.

Karena setiap keterangan diketik dalam sel-sel yang mandiri (sebelumnya semua keterangan diketik di sel yang sama berupa satu kalimat) maka Adi bisa mengambilnya dan memasukannya dalam rumus perhitungan. Rumus yang ditulis Adi telah diubah, dia tidak lagi mengetikan angk-angka nilai deposito, tingkat suku bunga, dan jangka waktu deposito dalam rumusnya. Sebagai gantinya dia mengetikan lokasi sel tempat angka-angka tersebut berada. Tepatnya inilah rumus yang diketik Adi (lihat kolom J):

Bunga Deposito 1d

Adi merasa lega sekarang karena telah berhasil menemukan cara menghitung bunga deposito dengan berbagai variasi tingkat suku bunga yang berbeda dari beberapa bank. Lebih dari itu dia juga melihat bahwa sekarang bahkan siap menghadapi permintaan istrinya jika harus mencoba berbagai variasi nilai deposito dan jangka waktu yang berbeda-beda pula.

Anda tentu tahu maksud saya bukan? Silahkan ganti angka-angka di kolom D, F, dan H sesuka hati anda, maka hasil di kolom J akan berubah dengan sendirinya. Bagaimana pendapat anda? Masih mau pakai kertas, pena, dan kalkulator?